Majene – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene melaksanakan kuliah lapangan (outing class) di Stasiun Meteorologi Kelas II Tampa Padang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Barat, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya program studi menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga bersinggungan langsung dengan praktik nyata yang ada di lapangan.
Kuliah lapangan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa mengenai materi cuaca dan iklim dalam mata kuliah IPA MI/SD. Selama ini, konsep-konsep seperti unsur cuaca, perbedaan cuaca dan iklim, hingga prakiraan cuaca umumnya dipelajari melalui buku, diskusi, dan media pembelajaran di kelas. Melalui kunjungan ke stasiun meteorologi, mahasiswa diajak melihat bagaimana konsep tersebut diterapkan oleh lembaga yang secara resmi bertugas mengamati, mengolah, dan menyampaikan informasi cuaca serta iklim kepada masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh 49 mahasiswa PGMI semester 5 yang sedang menempuh mata kuliah IPA. Para mahasiswa didampingi oleh dua dosen pengampu mata kuliah tersebut, yaitu Resti Fitriati, M.Pd. dan Zulmiswal Suherli, M.Pd. Pendampingan dosen dimaksudkan agar kegiatan berjalan terarah dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa dapat dikaitkan kembali dengan capaian pembelajaran mata kuliah.
Pada pelaksanaannya, kegiatan dibagi menjadi tiga kelompok agar setiap mahasiswa mendapat kesempatan belajar yang optimal dan dapat berinteraksi lebih dekat dengan narasumber. Setiap kelompok akan mempelajari tiga materi, yaitu pengelolaan data, proses pengamatan meteorologi, dan proses pengamatan klimatologi. Ketiga materi tersebut dipandu oleh tiga narasumber dari BMKG yaitu Wildan Auliya Azka W, S.Tr.Klim, Hilmy Muhammad R, S.Tr.Klim, dan Nuriman, SP. Ketiganya memandu mahasiswa memahami alur kerja stasiun meteorologi, mulai dari pengamatan hingga pemanfaatan informasinya bagi masyarakat.
Agar pembelajaran lebih efektif, ketiga kelompok mengikuti materi tersebut secara bergantian. Setelah satu sesi selesai, setiap kelompok berpindah ke materi berikutnya hingga seluruh kelompok memperoleh ketiga materi secara lengkap. Dengan sistem bergilir ini, tidak ada mahasiswa yang hanya mempelajari satu bagian saja. Seluruh peserta memperoleh gambaran utuh tentang alur kerja stasiun meteorologi, mulai dari pengamatan cuaca, pengamatan iklim, hingga pengelolaan data menjadi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pada materi pengelolaan data, mahasiswa memperoleh penjelasan tentang pengumpulan hasil pengamatan, pengolahan, hingga penyajiannya menjadi informasi yang dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat. Pada materi pengamatan meteorologi, mahasiswa mempelajari bagaimana unsur-unsur cuaca diamati dan dicatat secara rutin. Sementara itu, pada materi pengamatan klimatologi, mahasiswa memahami bagaimana data pengamatan jangka panjang digunakan untuk mengenali karakteristik iklim suatu wilayah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat mengamati secara langsung hal-hal yang dijelaskan serta mengajukan pertanyaan mengenai berbagai fenomena cuaca dan iklim yang mereka temui di lingkungan sekitar. Mahasiswa juga dapat memahami peran penting data cuaca dan iklim dalam kehidupan sehari-hari, antara lain untuk mendukung kegiatan pertanian, pelayaran, transportasi, serta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem.
Dosen pengampu mata kuliah IPA, Zulmiswal Suherli, M.Pd., menyampaikan harapannya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya belajar teorinya saja di kelas, tetapi juga bisa belajar secara langsung mengenai pengamatan cuaca dan iklim,” ujarnya.
Pengalaman ini diharapkan memberi bekal bagi mahasiswa sebagai calon guru madrasah ibtidaiyah. Pemahaman yang utuh tentang cuaca dan iklim, beserta cara memperolehnya dari sumber yang kredibel dan diharapkan dapat membantu mereka merancang pembelajaran IPA yang kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Mahasiswa juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan belajar berbasis pengamatan dan data sejak dini.
Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, yang terlihat dari semangat mereka dalam menyimak penjelasan dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Dengan terlaksananya kuliah lapangan ini, Prodi PGMI STAIN Majene berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan guna memperkaya pengalaman belajar mahasiswa pada berbagai mata kuliah lainnya.